…Mereka tergelak sedemikian pingkalnya, sehingga salah satu dari laki-bini itu harus berpegangan kusen pintu, tak tahan memegangi otot perut yang sedemikian terkontraksi. Saya bersenyum masam, sambil terus menyapu beranda.
“ Jadi Duan taruh di mana rumpun talas gatal itu? “
“Di beranda atas, Pak, pake wadah ember.”
Sontak meledaklah lagi, laughing out loud mereka semakin menjadi-jadi. Terus-terus, keras terdengar bahkan saat mereka menjauh melewati ruang tengah, ruang ti-pi, tembus ke dapur. Mengingatkan saya pada lolong histeris gerombolan ajag (Cuon alpinus) di masa-masa ‘muda’ saya dulu, saat mengambil data skrepsi di rimba Sumatra.
***
Tak bosan-bosan saya menikmati lenggang daun-daun talas nan royo-royo di pojok beranda. Sesekali saya julurkan tangan untuk mengelus-elus kelembutan dan mengagumi kesegarannya. Sambil nyruput indokafe, saya seakan tak mau ketinggalan momen si anggota baru berklorofil ini. Senang aja mengikuti semua gerak lambai tungkai dedaun lebar nan gemulai.
Memulai pagi di beranda atas always never make me down. Dikelilingi bambu jepang, lidah buaya, sri rejeki, kembang bawang, kembang kertas dan miniatur kembang kantil (saya belum dapat nama persisnya), mata juga dapat memuaskan pandangan luas ke depan, menikmati megahnya pokok ketapang dan lentik tajuk pinang, berlatarkan langit biru cobalt.
Ketapang di belakang rumah Kak Nita itu, benar-benar gila suburnya. Bongsor! Kalau itu orang, saya yakin dia pasti gigantisme. Dulu pertama lihat, saya sampai tak yakin itu ketapang. Mungkin satu marga tapi beda jenis dengan ketapang biasa. Tak pernah saya lihat daun ketapang selebar itu, baik di sepanjang pesisir Jawa maupun yang tumbuh di kampus UI. Saya sampai harus bertandang ke pokoknya, memperhatikan daunnya, lebih teliti mencermati pola percabangan terminalis –nya, barulah yakin. Kenapa sangat berbeda ukurannya, (jawaban sementara) karena lahan gambut menyempurnakan nutrisi spesies ini.
Pohon pinang.. hmm.. tak pernah saya tak jatuh cinta dengan si ramping semampai ini. Biarlah orang lain mencime’eh-nya sebagai sesuatu yang kampung dan sangat biasa. Di mata dan di ‘tradisi romantis’ saya, Miss Pinang selalu punya “je ne sais quoi” (kalau kata orang kubu) ; punya indefinable, elusive charming quality. Konon berdasarkan buku panduan lapangan pengenalan burung-nya McKinnon, pinang tempat bersarang ter-favorit burung jalak suren (Sturnus contra). Sedihnya, karena jenis ini (dan juga banyak jenis burung lainnya) menjadi semakin diminati, tempat mereka sekarang bukanlah di mahkota anggun tajuk pinang, tapi di pasar (burung). Apalagi di Jawa, sudah jarang sekali terlihat si bawel bersayap ini berloncatan dan bertengkar nun di ketinggian kanopi pohon. (Banyak sekali kebaikan-kebaikan pada orang Jawa, I admit. Kegemaran mereka memelihara segala jenis burung lah -lebih tepat disebut kegilaan- yang membuat (lelaki) Jawa ugly dimata saya. Terlebih lagi di mata para konservasionis burung…)
“ Iya.. mungkin di mata Bapak, nanem tales gatel itu di pot sama aja dengan nanem alang-alang trus merawatnya seperti taneman hias.”
Kata saya esok harinya, setelah insiden tawa dan cela yang seperti suara burung kookaburra kemarin itu. Mulutnya mulai melebar, naga-naganya dia bakal meng-kookaburra lagi. Sepertinya dia mengiyakan. Rasanya tepat sekali memang, menganalogikan rumpun talas “tak berguna” yang saya tanam dalam pot di beranda atas itu dengan alang-alang.
Talas yang saya sayang-sayang dalam wadah ember di beranda itu, saya colong dari halaman depan rumah tetangga. Dan saya yakin sang tetangga sama sekali tak keberatan. bayangkan, di lahan rawa 15×15 meter itu mereka tumbuh liar berdesak-desakan, mungkin lebih dari tiga ribu rumpun! Literally, blade by stem. By the way, aneh juga ya, ada rumah yang halaman depannya rawa. Rawa gambut pula. Kalau anak laki sih pasti senang sekali sama yang namanya kubangan; bisa cari ikan, kodok, capung, main lumpur, hingga kakinya pada koreng-korengan. Tapi kasian kan anak-anak putri, gak bisa bermain tali atau bermain pasar-pasaran (kalau pasar-pasarannya seperti pasar terapung di Sungai Barito, mungkin bisa). Tapi ntar lah, kali lain saya akan cerita lebih detil dan aneh lagi mengenai kota aneh Tembilahan yang berawa-rawa gambut (aneh) ini.
(Sedikit bocoran; kalau di comberan depan rumah kita sering berkelana ikan cere, ikan kepala timah, dan ikan djoeloeng-djoeloeng, maka di comberan gambut depan rumah orang-orang Tembilahan ini sering nongkrong bermalas-malasan ikan glodok! Saya kadang iseng tanya (dengan sedikit berbisik) ke mereka: ” psstt.. Mas, ada VCD “ginian ” gak..?” (sambil saya selipkan ibu jari diatantara jari tengah dan telunjuk..) Catatan: bagi anda yang gak pedulian sama cem-macem jenis pisces, ini ikan adalah spesies yang kurang ajar. Mereka sering di anggap menyalahi hukum di kerajaan Ikan. Mereka senang keluar dari air, keluyuran in the broad daylight, dan berjalan-jalan (atau itu tadi, bermalas-malasan) di lumpur atau manjat dan berleha-leha di ranting landai belukar sekitar kubangan. Bagi yang suka pecicilan ke pantai, pasti ikan glodok (Periophthalmus spp.) yang sok bergaya preman ini langsung mengingatkan anda pada hutan bakau).
Nah! jadi jelas, kemaren itu saya mendapat cela dan cime’eh serta dihadiahi gelak tawa ala burung Kookaburra, karena saya menyalahi aturan dan melawan hukum tentang keindahan (versi laki-bini ramah tempat saya kos ini). Talas gatal koq di jadikan klangenan, dirawat dengan sepenuh sayang. “Alang-alang” sama sekali tak pantas dijadikan tanaman hias, toh? begitu mungkin, kalau menuruti rasa estetika mereka. Cuman masalahnya, apakah gak boleh sesuatu yang biasa dan berlimpah-ruah itu diangkat (atau mengangkat sendiri) harga dirinya, dipandang unik dan cantik?
Waktu saya di Belgia dan di Perancis, talas gatal yang di Indonesia demen tumbuh di tepi empang busuk itu, yang kecil aja harganya 30 Euro. Di eman-eman pula sama penjualnya, karena suplainya juga jarang. Sering juga saya lihat, talas yang dengan sinis di “Upik Abu”-kan oleh”lucky-beenie” tempat saya kos ini, duduk anggun di rumah-rumah kaca di Belanda. Kalau dia begitu berharga dimata orang Eropa, kenapa enggak gitu looh, juga cantik di mata kita. (setidaknya, biarkanlah derajatnya sedikit naik dan “laik ember bekas”, andainya masih belum rela ditaruh di pot mahal). Kenapa enggak boleh dia kita anggap punya keindahan yang unik, despite of her abundance dan peran “sudra”-nya sebagai gulma penyusah? Atau setidaknya dia boleh cantik di mata orang aneh (seperti saya), yang menganggapnya indah dan menarik?
hmm.. Beauty is in the eyes of beholder..
***