The Dear Lord love Her Mind to be Read

Posted in Eropa, life, plant addict, Poem, Puisi, Uncategorized with tags , , , on December 19, 2008 by tualang

The Dear Lord love Her Mind to be Read

.                              ***

Ada kalanya, Tuhan menjauhi puja-puji.

Saat senja, Dia sederhana dan bersahaja.

.

Senangkah Ia pada kemungkinan dan kebetulan?

Probabilitas, relativitas, dan mekanika kuantum?

.

baydewei,

tampaknya Tuhan suka teori evolusi..  hhmmm…

.

Ia tidak menciptakan jalan,

tapi Dia lah jalan itu, yang mengantarmu pada arti eksistensi.

.

Tuhan yang dekat, entah dimana,

Mungkin hari-harinnya Dia habiskan dengan bermain dadu

.

Sukawati, 2008 *jelang ganti tahun*

-

A LITTLE BOOK THAT WILL MAKE YOU Sshh…hh…Sshhh…

Posted in Eropa, life, plant addict, Sumatra, Travel, Uncategorized with tags , , , , , , , , , , , , on November 12, 2008 by tualang

-)

A LITTLE STORY THAT WILL MAKE YOU Sshh..hh..Sshh..

Tiada siksa sporadik yang lebih nikmat dari menyambut kejut meletusnya cabe rawit di rongga mulut, saat makan indomi atau tahu bunting. Setidaknya, itulah ide sederhana saya tentang surga, dalam tiga detik. Kala letup senyawa kimia buah kecil montok itu geram menghujam bintil-bintil pengecap di lidah, seketika itulah saya menjadi a mild masochist yang paling bahagia di dunia. Yah… at least, untuk tiga detik selanjutnya saya seperti mendapatkan mikro-orgasme di daerah oral… (pardon me..).

Sebagai penikmat “masochism” level ringan ini, saya tidak sendiri. Kiranya ada milyaran manusia bumi sama seperti saya; para masochist kuliner yang ketagihan menanggung dera cambuk capsaicin Nona Chillie Pepa. Coba cari, orang India mana yang tak suka lombok. Pergilah ke Manado, dan anda sambil mendesah-desah akan setuju bahwa pedasnya “sambel setan” negeri sunda tak ada apa-panya dibandingkan masakan orang sana.

Saya teringat akan ritual musiman dengan teman-teman di Eropa, pada musim semi 2007. Pagi itu, kehangatan Kota Antwerpen tak hanya terpantul dari kelok liku jalan-jalan tua dan bangunan-bangunan antiknya, tapi juga terpancar dari wajah-wajah sumringah pejalan kaki sepanjang kafe-kafe beranda. Santai melingkar dekat pohon ginko di beranda Kafe “De Lux”, kami terguyur semangat musim bunga dan keriangan celoteh sesama karib seperantauan.

Meffrau Anneke selalu melempar senyum menggoda tiap kali meletakkan pesanan saya di meja. Saya mungkin pelanggannya yang paling tidak biasa; tiap kongkow di kafe ini tak pernah pesan minuman model apapun selain kopi. Orang Belgia tidak minum kopi di luar. Sudah tujuh belas kali saya nongkrong di kafe mana saja, tak pernah saya lihat clientele lain nyruput kopi. Pernah coba pesan jus tomat, tapi rasanya “tak terlukiskan”; seperti saus tomat yang diberi mecin berlebihan. Lagian, dalam suasana kumpul-karib begini tak mungkinlah bagi para bule (dan manusia Indonesia yang ter-bule-kan) untuk tak pesan alcoholic drink (yang namanya “aneh-aneh” itu).

Seperti kumpul-kafe minggu-minggu kemarin, Leo selalu datang dengan wajah yang seperti baru tertabrak trem. Hangover. Dia peminum kuat, 16 tahun yang sia-sia telah dia tekatkan untuk lepas dari kecanduan alkohol. Saya tak pernah kecanduan terhadap apapun (hmm.., mungkin pernah, satu kali; di akhir-akhir masa kuliah tahun 1999, saat saya terkena sindrom “lari dari kejaran skripsi”. Selama tiga bulan saya tak kuasa berhenti main game “Heretic”). Well, intinya, saya tidak tahu bagaimana rasanya kecanduan alkohol dan hari-hari macam apa yang harus saya derita. Karena itu, saya sama sekali tidak, atau tepatnya belum bisa ber-empati pada Meneer Leo.

Ketika cemilan datang, saya sama sekali tak tertarik mencicipinya. Enek dengan makanan Eropa yang selalu dari manis ke asam ke manis lagi. Hambar pula. Saya begitu merindukan masakan pedas khas asia yang ramai rasa. Cabe.. sambal.. merica.. hmm.. Saya memang bisa mengurangiya, tapi saya benar-benar tidak bisa lepas dari (siksa) nya; si Nona Chillie Pepa. Eh, ndilalah, seketika itu juga saya tertegun; I do..! I do..! Berteriak dalam hati. Ternyata tanpa pernah saya sadari sebelumnya, saya juga seorang pecandu berat..!

Saya tatap wajah kucel Leo dan minuman rose wine-nya berganti-ganti. Saya andaikan bahwa cabe, sayuran-buah paling penting dalam hidup saya itu (sorry, agak berlebihan hehehe..J), adalah minuman beralkohol. So, dapatkah saya berhenti darinya? Akankah saya (selama 16 tahun seperti Leo) sia-sia berjanji ribuan kali bahwa saya (saat keblinger kepedasan) benar-benar “kapok-lombok” dan tidak mau lagi makan sambal? (Saya pernah hampir pingsan karena kebanyakan makan “sambel setan” Teteh Imah, di kampung Parung Kuda). Bila saya berjuang sekuat-kuat niat, akankah berhasil lepas dari jerat sensualitas kulineria Nona Chillie Pepa? Ne, Leo.. nee.. gue kagak bakalan sanggup.. Hot plate bergelimang aneka sambal dan irisan cabe adalah kegairahan utama hari-hari saya.. (setelah seks..) Oh.. yeaah…

Kemudian, sedikit tak percaya akan penemuan satu “sisi gelap” saya ini, sekali lagi saya perhatikan gerak-gerik Leo, dan bergumam; saya sekarang benar-benar mampu memberi empati yang amat besar padamu, Meneer.. Kita sama-sama pecandu berat..

Panam genyeh, November 08

TENTANG KITA (a poem)

Posted in life, Poem, Puisi, Sumatra, Uncategorized with tags , , on July 7, 2008 by tualang

TENTANG KITA

Kita diam,
‘tuk lupakan duka
Bingar bilur luka lama bicara

Kita senyap,
Sejenak nikmati hangat
Tlah lama sangat cinta-cinta terkasih pergi

.Beku.

Engkau tersenyum,
Ku rasakan kau pedih
Kau tau dia takkan kembali

(Disini dadaku untukmu)

Kita tertawa, hening
Seraya hangatkan bekal

Jalan masihlah teramat panjang..

*

Tembilahan Sunyi, ’08
(tiada hujan awal Juli)

***

BEAUTIFUL is BEAUTIFUL

Posted in life, plant addict, Travel, Uncategorized on July 6, 2008 by tualang

…Mereka tergelak sedemikian pingkalnya, sehingga salah satu dari laki-bini itu harus berpegangan kusen pintu, tak tahan memegangi otot perut yang sedemikian terkontraksi. Saya bersenyum masam, sambil terus menyapu beranda.

“ Jadi Duan taruh di mana rumpun talas gatal itu? “

“Di beranda atas, Pak, pake wadah ember.”

Sontak meledaklah lagi, laughing out loud mereka semakin menjadi-jadi. Terus-terus, keras terdengar bahkan saat mereka menjauh melewati ruang tengah, ruang ti-pi, tembus ke dapur. Mengingatkan saya pada lolong histeris gerombolan ajag (Cuon alpinus) di masa-masa ‘muda’ saya dulu, saat mengambil data skrepsi di rimba Sumatra.

***

Tak bosan-bosan saya menikmati lenggang daun-daun talas nan royo-royo di pojok beranda. Sesekali saya julurkan tangan untuk mengelus-elus kelembutan dan mengagumi kesegarannya. Sambil nyruput indokafe, saya seakan tak mau ketinggalan momen si anggota baru berklorofil ini. Senang aja mengikuti semua gerak lambai tungkai dedaun lebar nan gemulai.

Memulai pagi di beranda atas always never make me down. Dikelilingi bambu jepang, lidah buaya, sri rejeki, kembang bawang, kembang kertas dan miniatur kembang kantil (saya belum dapat nama persisnya), mata juga dapat memuaskan pandangan luas ke depan, menikmati megahnya pokok ketapang dan lentik tajuk pinang, berlatarkan langit biru cobalt.

Ketapang di belakang rumah Kak Nita itu, benar-benar gila suburnya. Bongsor! Kalau itu orang, saya yakin dia pasti gigantisme. Dulu pertama lihat, saya sampai tak yakin itu ketapang. Mungkin satu marga tapi beda jenis dengan ketapang biasa. Tak pernah saya lihat daun ketapang selebar itu, baik di sepanjang pesisir Jawa maupun yang tumbuh di kampus UI. Saya sampai harus bertandang ke pokoknya, memperhatikan daunnya, lebih teliti mencermati pola percabangan terminalis –nya, barulah yakin. Kenapa sangat berbeda ukurannya, (jawaban sementara) karena lahan gambut menyempurnakan nutrisi spesies ini.

Pohon pinang.. hmm.. tak pernah saya tak jatuh cinta dengan si ramping semampai ini. Biarlah orang lain mencime’eh-nya sebagai sesuatu yang kampung dan sangat biasa. Di mata dan di ‘tradisi romantis’ saya, Miss Pinang selalu punya je ne sais quoi” (kalau kata orang kubu) ; punya indefinable, elusive charming quality. Konon berdasarkan buku panduan lapangan pengenalan burung-nya McKinnon, pinang tempat bersarang ter-favorit burung jalak suren (Sturnus contra). Sedihnya, karena jenis ini (dan juga banyak jenis burung lainnya) menjadi semakin diminati, tempat mereka sekarang bukanlah di mahkota anggun tajuk pinang, tapi di pasar (burung). Apalagi di Jawa, sudah jarang sekali terlihat si bawel bersayap ini berloncatan dan bertengkar nun di ketinggian kanopi pohon. (Banyak sekali kebaikan-kebaikan pada orang Jawa, I admit. Kegemaran mereka memelihara segala jenis burung lah -lebih tepat disebut kegilaan- yang membuat (lelaki) Jawa ugly dimata saya. Terlebih lagi di mata para konservasionis burung…)

“ Iya.. mungkin di mata Bapak, nanem tales gatel itu di pot sama aja dengan nanem alang-alang trus merawatnya seperti taneman hias.”

Kata saya esok harinya, setelah insiden tawa dan cela yang seperti suara burung kookaburra kemarin itu. Mulutnya mulai melebar, naga-naganya dia bakal meng-kookaburra lagi. Sepertinya dia mengiyakan. Rasanya tepat sekali memang, menganalogikan rumpun talas “tak berguna” yang saya tanam dalam pot di beranda atas itu dengan alang-alang.

Talas yang saya sayang-sayang dalam wadah ember di beranda itu, saya colong dari halaman depan rumah tetangga. Dan saya yakin sang tetangga sama sekali tak keberatan. bayangkan, di lahan rawa 15×15 meter itu mereka tumbuh liar berdesak-desakan, mungkin lebih dari tiga ribu rumpun! Literally, blade by stem. By the way, aneh juga ya, ada rumah yang halaman depannya rawa. Rawa gambut pula. Kalau anak laki sih pasti senang sekali sama yang namanya kubangan; bisa cari ikan, kodok, capung, main lumpur, hingga kakinya pada koreng-korengan. Tapi kasian kan anak-anak putri, gak bisa bermain tali atau bermain pasar-pasaran (kalau pasar-pasarannya seperti pasar terapung di Sungai Barito, mungkin bisa). Tapi ntar lah, kali lain saya akan cerita lebih detil dan aneh lagi mengenai kota aneh Tembilahan yang berawa-rawa gambut (aneh) ini.

(Sedikit bocoran; kalau di comberan depan rumah kita sering berkelana ikan cere, ikan kepala timah, dan ikan djoeloeng-djoeloeng, maka di comberan gambut depan rumah orang-orang Tembilahan ini sering nongkrong bermalas-malasan ikan glodok! Saya kadang iseng tanya (dengan sedikit berbisik) ke mereka: ” psstt.. Mas, ada VCD “ginian gak..?” (sambil saya selipkan ibu jari diatantara jari tengah dan telunjuk..) Catatan: bagi anda yang gak pedulian sama cem-macem jenis pisces, ini ikan adalah spesies yang kurang ajar. Mereka sering di anggap menyalahi hukum di kerajaan Ikan. Mereka senang keluar dari air, keluyuran in the broad daylight, dan berjalan-jalan (atau itu tadi, bermalas-malasan) di lumpur atau manjat dan berleha-leha di ranting landai belukar sekitar kubangan. Bagi yang suka pecicilan ke pantai, pasti ikan glodok (Periophthalmus spp.) yang sok bergaya preman ini langsung mengingatkan anda pada hutan bakau).

Nah! jadi jelas, kemaren itu saya mendapat cela dan cime’eh serta dihadiahi gelak tawa ala burung Kookaburra, karena saya menyalahi aturan dan melawan hukum tentang keindahan (versi laki-bini ramah tempat saya kos ini). Talas gatal koq di jadikan klangenan, dirawat dengan sepenuh sayang. “Alang-alang” sama sekali tak pantas dijadikan tanaman hias, toh? begitu mungkin, kalau menuruti rasa estetika mereka. Cuman masalahnya, apakah gak boleh sesuatu yang biasa dan berlimpah-ruah itu diangkat (atau mengangkat sendiri) harga dirinya, dipandang unik dan cantik?

Waktu saya di Belgia dan di Perancis, talas gatal yang di Indonesia demen tumbuh di tepi empang busuk itu, yang kecil aja harganya 30 Euro. Di eman-eman pula sama penjualnya, karena suplainya juga jarang. Sering juga saya lihat, talas yang dengan sinis di “Upik Abu”-kan oleh”lucky-beenie” tempat saya kos ini, duduk anggun di rumah-rumah kaca di Belanda. Kalau dia begitu berharga dimata orang Eropa, kenapa enggak gitu looh, juga cantik di mata kita. (setidaknya, biarkanlah derajatnya sedikit naik dan “laik ember bekas”, andainya masih belum rela ditaruh di pot mahal). Kenapa enggak boleh dia kita anggap punya keindahan yang unik, despite of her abundance dan peran “sudra”-nya sebagai gulma penyusah? Atau setidaknya dia boleh cantik di mata orang aneh (seperti saya), yang menganggapnya indah dan menarik?

hmm.. Beauty is in the eyes of beholder..

***

BEFORE NIGHT FALLS…

Posted in Eropa, life, Sumatra, Travel, Uncategorized with tags , , , , , , on June 26, 2008 by tualang

Tembilahan, kota rawa tiada harapan, akhir Juni 2008

Kadang dalam jaga, kenangan akan lalu hingar terhampar. Kelam jadi mitra kemunculannya. Dan kalau rindu akan indahnya dulu sudah tubi-tubi mendera, saya hanya mampu berlari ke beranda, mengadu pada bintang-bintang Utara.

Sehela nafas pun, rasanya tiada terima bahwa saya sudah tidak lagi di Eropa. Paris, Rotterdam, Brussels, dan petang-siang penuh cinta dan gairah di Antwerpen.. (aughhh.. saya ucapkan ini diiringi kesah&keluh..). Tak tertanggung rindu pada liku jalan-jalan kecil yang menyembunyikan galeri-galeri seni di sudut-sudutnya. Kangen sangat pada hangat suasana obrolan bersama teman-teman Indo dan bule, sore-sore di kafe. Atau saat iseng sendiri, bengong bertemankan merpati-merpati gemuk, di bangku lapangan kota yang berpagar katedral dan gedung-gedung tua. Juga, saya begitu longing Eropa pada lengang taman-tamannya di musim gugur, pada siksa tusukan dinginnya, pada semua-mua yang berbeda dan khas negeri sana, dan betapa rindu-biru saya akan asmara dan intimasi bersama nya .. :-( semua kemanisan itu kini tinggal memummi di ceruk hati..)

Semalam puncaknya. Kalau tidak di balkon, saya biasanya nongkrong di sayap utara, tempat menjemur pakaian tepat di atas atap kamar mandi bawah. Dari vantage point ini, skyline kota Tembilahan (yang aneh tiada cantik) terbentang sampai tepi Sungai Indragiri. Ketiadaan atap membuat layang pandang lepas sampai ke zenith. Ini kali, sendiri saya ditemani se-pot lebat herba talas dan kopi instan segelas. Taburan gemintang di atas. Kalau sudah begini, mulailah saya mengadu pada Resi Waluku. Senyum dan sendu silih berpacu seiring terputarnya lagi rekaman manis dimasa yang lalu. Sesudahnya itu, pastilah saya sms tiga karib saya nun di Bandung, Padang, dan Antwerpen. Sekedar curhat-curhatan dan sedikit minta empati..

( ..Tu Bi Kontinyuud..)

Hello world!

Posted in Eropa, life, Sumatra, Travel, Uncategorized on November 13, 2007 by tualang

On the foating hut, Musi River

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.